aziz chakim

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
BERDISCO DENGAN BERBANTUAN PUZZLE UNTUK MENINGKATKAN KEAKTIFAN DAN HASIL BELAJAR MATERI GAYA DAN HUKUM NEWTON PADA PESERTA DIDIK KELAS VIII A SMP NEGERI 3 WARUNGASEM TAHUN PELAJARAN 2017/2018

BERDISCO DENGAN BERBANTUAN PUZZLE UNTUK MENINGKATKAN KEAKTIFAN DAN HASIL BELAJAR MATERI GAYA DAN HUKUM NEWTON PADA PESERTA DIDIK KELAS VIII A SMP NEGERI 3 WARUNGASEM TAHUN PELAJARAN 2017/2018

Abstrak: masalah PTK ini, bagaimana proses pembelajaran, peningkatan keaktifan peserta didik, peningkatan hasil belajar IPA materi gaya dan hukum Newton dengan berdisco berbantuan puzzle? Penelitian dilaksanakan dengan dua siklus. Hasil penelitian ini: proses pembelajaran IPA dengan berdisco (discovery learning) berbantuan puzzle berjalan baik, nilai rata-rata yang dicapai oleh peserta didik sebelum diberi tindakan, yaitu sebesar 56,14 dengan ketuntasan 13,64%. Pada siklus I, nilai rata-rata meningkat menjadi 75,45 dengan ketuntasan 59,09%. Pada siklus II, nilai rata-rata 83,86 dengan ketuntasan 86,36%. Selain itu, hasil nontes menunjukkan adanya perubahan perilaku peserta didik ke arah positif dan peserta didik juga memberikan tanggapan yang positif terhadap pembelajaran dengan berdisco berbantuan puzzle.

Kata Kunci: Berdisco (discovery learning), puzzle, keaktifan dan hasil belajar, gaya dan hukum Newton.



PENDAHULUAN


Pembelajaran IPA diharapkan menjadi pembelajaran yang aktif, efektif, dan menyenangkan sesuai dengan kurikulum. Peserta didik diharapkan dapat menemukan konsep sendiri dengan bimbingan dari guru. Peserta didik menunjukkan sikap yang sungguh-sungguh atau antusias sehingga hasil belajar yang diperoleh sesuai dengan standar yang diharapkan.

Uraian tersebut bertolak belakang dengan kondisi pembelajaran IPA yang terjadi di sekolah. Peserta didik masih menganggap pelajaran IPA sebagai pelajaran yang sulit. Persepsi ini sudah terlanjur melekat di kalangan peserta didik. Hal ini cukup beralasan karena cukup banyak konsep abstrak dalam IPA yang tidak dipahami dan tidak dimengerti peserta didik. Sering kali peserta didik hanya menghafalkan definisi konsep tanpa memperhatikan hubungannya dengan konsep yang lain. Dengan demikian konsep baru tidak masuk jaringan konsep yang telah ada dalam kepala peserta didik, tetapi konsepnya berdiri sendiri tanpa hubungan dengan konsep lainnya.

Berdasarkan observasi awal melalui pengamatan kelas VIII A SMP Negeri 3 Warungasem, peserta didik masih cenderung pasif. Hal ini dapat dilihat dari responnya saat guru mengajar di depan kelas, yaitu peserta didik cenderung hanya mendengarkan penjelasan guru, apabila guru memberikan pertanyaan, jarang ada yang mau menjawab, peserta didik baru menjawab apabila ditunjuk. Selain itu, apabila guru memberikan kesempatan bertanya, peserta didik kurang memanfaatkan. Dari hasil pra siklus kompetensi gaya dan pengaruhnya masih banyak peserta didik yang memperoleh nilai di bawah standar atau dapat dikatakan belum mencapai KKM yang telah ditetapkan, yaitu 75. Berdasarkan daftar hasil belajar peserta didik, hanya 13,64% dari jumlah peserta didik kelas VIII A SMP Negeri 3 Warungasem yang tuntas.

Kelemahan-kelemahan peserta didik dalam mencapai indikator pembelajaran IPA tersebut harus segera diatasi agar hasil belajar dapat meningkat. Salah satu cara yang dapat dilakukan adalah menerapkan pembelajaran IPA dengan berdisco (discovery learning) berbantuan puzzle. Hal ini diperlukan karena mempelajari dan membentuk pengetahuan, diperlukan kontak langsung dengan hal yang ingin diketahui. Inilah sebabnya dalam IPA dengan berdisco berbantuan puzzle, dimana peserta didik dapat mengamati, mengukur, mengumpulkan data, menganalisa data, dan menyimpulkan, sangat cocok.

Rumusan masalah yang dikemukakan dalam penelitian tindakan kelas ini ada tiga. (1) bagaimana proses pembelajaran IPA dengan berdisco (berdiscovery learning) berbantuan puzzle materi gaya dan hukum Newton pada peserta didik kelas VIII A SMP Negeri 3 Warungasem? (2) bagaimana peningkatan keaktifan peserta didik kelas VIII A SMP Negeri 3 Warungasem setelah melaksanakan pembelajaran IPA dengan berdisco berbantuan puzzle? (3) bagaimana peningkatan hasil belajar peserta didik kelas VIII A SMP Negeri 3 Warungasem setelah melaksanakan pembelajaran IPA materi gaya dan hukum Newton dengan berdisco berbantuan puzzle?

Sejalan dengan rumusan masalah ada tiga tujuan yang akan dicapai dalam PTK ini. (1) mendeskripsi proses pembelajaran IPA materi gaya dan hukum Newton dengan berdisco berbantuan puzzle pada peserta didik kelas VIII A SMP Negeri 3 Warungasem; (2) mendeskripsi peningkatan hasil belajar IPA materi gaya dan hukum Newton peserta didik kelas VIII A SMP Negeri 3 Warungasem setelah melaksanakan pembelajaran dengan berdisco berbantuan puzzle; (3) mendeskripsi peningkatan keaktifan peserta didik kelas VIII A SMP Negeri 3 Warungasem setelah melaksanakan pembelajaran IPA materi gaya dan hukum Newton dengan berdisco berbantuan puzzle.

Manfaat PTK ini ada tiga (1) manfaat bagi peserta didik adalah: menarik minat, membantu pencapaian indikator kompetensi gaya dan hukum Newton, dan melatih peserta didik agar terbiasa melakukan kegiatan discovery learning; (2) manfaat bagi guru adalah: sebagai umpan balik untuk melaksanakan perbaikan dalam pembelajaran, sebagai masukan dan alternatif mengenai penerapan model berdisco berbantuan puzzle dalam pembelajaran di sekolah, dan sebagai bahan untuk memotivasi peserta didik dalam mempelajari materi gaya dan hukum Newton; dan (3) manfaat bagi sekolah adalah: meningkatkan kualitas dan prestasi peserta didik, sebagai pedoman mengevaluasi penguasaan materi gaya dan hukum Newton pada peserta didik kelas VIII A.

LANDASAN TEORETIS DAN HIPOTESIS TINDAKAN

Belajar dan Pembelajaran IPA

Pengertian belajar secara komprehensif diberikan oleh Bell-Gredler (dalam Winataputra, 2008:15) yang menyatakan bahwa belajar adalah proses yang dilakukan oleh manusia untuk mendapatkan aneka ragam kemampuan, keterampilan, dan sikap. Seseorang dikatakan belajar jika dalam diri orang tersebut terjadi suatu aktivitas yang mengakibatkan perubahan tingkah laku yang dapat diamati relatif lama. Belajar merupakan suatu proses interaksi antara diri manusia dengan lingkungannya, yang mungkin berwujud pribadi, fakta, konsep ataupun teori.

James O. Whittaker dalam Ahmadi dan Widodo (2004:126) berpendapat, belajar adalah proses di mana tingkah laku ditimbulkan atau diubah melalui latihan atau pengalaman, sedangkan pendapat Soemanto (2006:104), belajar bukanlah hanya sekadar pengalaman. Melalui belajar, manusia melakukan perubahan-perubahan kualitatif individu sehingga tingkah lakunya berkembang.

Berdasarkan uraian di atas tentang belajar, dapat disimpulkan bahwa belajar adalah suatu bentuk perubahan tingkah laku pada diri seseorang sebagai akibat dari pengalaman dan latihan dalam berinteraksi dengan lingkungan yang dialami oleh seseorang.

Sedangkan pembelajaran menurut Gagne, et. al (dalam Winataputra, 2008:119), pembelajaran adalah serangkaian kegiatan yang dirancang untuk memungkinkan terjadinya proses belajar pada siswa. Sementara dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 pasal 1 butir 20 berbunyi tentang Sisdiknas dirumuskan bahwa, “Pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar”. Dalam konsep pembelajaran tersebut terkandung 5 (lima) aspek, yakni interaksi, peserta didik, pendidik, sumber belajar, dan lingkungan belajar.

Carin dan Sund dalam kemendikbud (2013) mendefinisikan IPA sebagai “pengetahuan yang sistematis dan tersusun secara teratur, berlaku umum (universal), dan berupa kumpulan data hasil observasi dan eksperimen”. Merujuk pada pengertian IPA itu, maka dapat disimpulkan bahwa hakikat IPA meliputi empat unsur utama yaitu: (1) sikap: rasa ingin tahu tentang benda, fenomena alam, makhluk hidup, serta hubungan sebab akibat yang menimbulkan masalah baru yang dapat dipecahkan melalui prosedur yang benar; IPA bersifat open ended; (2) proses: prosedur pemecahan masalah melalui metode ilmiah; metode ilmiah meliputi penyusunan hipotesis, perancangan eksperimen atau percobaan, evaluasi, pengukuran, dan penarikan kesimpulan; (3) produk: berupa fakta, prinsip, teori, dan hukum; (4) aplikasi: penerapan metode ilmiah dan konsep IPA dalam kehidupan sehari-hari.

Hasil Belajar dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhi

Hasil belajar merupakan perubahan perilaku yang diperoleh pembelajar setelah mengalami aktivitas belajar (Anni et al. 2005). Perolehan aspek-aspek perubahan perilku tersebut tergantung pada pada yang di pelajari oleh pembelajar. Hasilbelajar yang dicapai oleh peserta didik di sekolah merupakan tujuan dari kegiatan belajarnya. Berkenaan dengan tujuan ini, Bloom dalam Anni et al. (2005) mengemukakan taksonomi yang mencakup tiga kawasan, yaitu kawasan kognitif, afektif, dan psikomotorik.

Slameto dalam Harminingsih (2008) menyatakan bahwa hasil belajar peserta didik dipengaruhi oleh dua faktor utama yaitu faktor dari dalam diri peserta didik dan faktor yang datang dari luar atau faktor lingkungan. Faktor dalam terdiri dari: (1) jasmaniah (kesehatan, cacat tubuh), (2) psikologis (intelegensi, perhatian, minat, bakat, motif, kematangan, kesiapan), (3) dan kelelahan. Faktor luar yaitu: (1) keluarga (cara orang tua mendidik, relasi antar anggota keluarga, suasana rumah, keadaan ekonomi keluarga, pengertian orang tua, latar belakang kebudayaan), (2) sekolah (metode mengajar, kurikulum, relasi guru dengan peserta didik, relasi peserta didik dengan peserta didik, disiplin sekolah, alat pelajaran, waktu sekolah, standar pelajaran di atas ukuran, keadaan gedung, metode belajar, tugas rumah), (3) dan masyarakat (kegiatan peserta didik dalam masyarakat, mass media, teman bergaul, bentuk kehidupan masyarakat).

Aktivitas Belajar

Aktivitas belajar menurut Oemar Hamalik (2010), “merupakan segala kegiatan yang dilakukan dalam proses interaksi dalam rangka mencapai tujuan belajar”. Aktivitas yang dimaksudkan di sini penekanannya adalah para peserta didik, sebab dengan adanya aktivitas peserta didik dalam proses pembelajarn akan tercipta situasi belajar aktif.

Aktivitas dalam proses belajar mengajar merupakan kegiatan yang meliputi keaktifan peserta didik dalam mengikuti pembelajaran. Paul D.Dierich dalam Sardiman (2010:101) menggolongkan aktivitas peserta didik dalam pembelajaran antara lain sebagai berikut:

1) Visual Activities yang termasuk di dalamnya membaca, memperhatikan gambar, demonstrasi, percobaan.

2) Oral Activities seperti menyatakan, merumuskan, bertanya, memberi saran, mengemukakan pendapat, mengadakan interview, diskusi.

3) Listening Activities seperti mendengarkan uraian, percakapan, musik, pidato.

4) Mental Activities seperti menganggap, mengingat, memecahkan soal, menganalisis, melihat hubungan, mengambil keputusan.

5) Emotional Activities seperti menaruh minat, merasa bosan, gembira, berani, tenang, gugup.

Model Pembelajaran Berdisco (discovery learning)

Model pembelajaran Discovery Learning mengarahkan peserta didik untuk memahami konsep, arti, dan hubungan, melalui proses intuitif untuk akhirnya sampai kepada suatu kesimpulan. Penemuan konsep tidak disajikan dalam bentuk akhir, tetapi peserta didik didorong untuk mengidentifikasi apa yang ingin diketahui dan dilanjutkan dengan mencari informasi sendiri kemudian mengorganisasi atau mengkonstruksi apa yang mereka ketahui dan pahami dalam suatu bentuk akhir. Hal tersebut terjadi bila peserta didik terlibat, terutama dalam penggunaan proses mentalnya untuk menemukan beberapa konsep dan prinsip. Discovery dilakukan melalui observasi, klasifikasi, pengukuran, prediksi, penentuan dan inferring.

Dalam mengaplikasikan model Discovery Learning di kelas, ada beberapa prosedur yang harus dilaksanakan dalam kegiatan pembelajaran, secara umum sebagai berikut.

1) Stimulation (stimulasi/pemberian rangsangan)

Pertama-tama pada tahap ini peserta didik dihadapkan pada sesuatu yang menimbulkan kebingungannya, kemudian dilanjutkan untuk tidak memberi generalisasi, agar timbul keinginan untuk menyelidiki sendiri. Di samping itu guru dapat memulai kegiatan pembelajaran dengan mengajukan pertanyaan, anjuran membaca buku, dan aktivitas belajar lainnya yang mengarah pada persiapan pemecahan masalah.

2) Problem Statement (Pernyataan / Identifikasi Masalah)

Setelah melakukan stimulasi, langkah selanjutnya adalah guru memberi kesempatan kepada peserta didik untuk mengidentifikasi sebanyak mungkin agenda-agenda masalah yang relevan dengan bahan pelajaran, kemudian pilih salah satu masalah dan dirumuskan dalam bentuk hipotesis (jawaban sementara atas pertanyaan masalah).

3) Data Collection (Pengumpulan Data)

Tahap ini berfungsi untuk menjawab pertanyaan atau membuktikan benar tidaknya hipotesis, dengan memberi kesempatan peserta didik mengumpulkan berbagai informasi yang relevan, membaca literatur, mengamati objek, wawancara dengan nara sumber, melakukan uji coba sendiri dan sebagainya.

4) Data Processing (Pengolahan Data)

Pengolahan data merupakan kegiatan mengolah data dan informasi yang telah diperoleh peserta didik baik melaui wawancara, observasi, dan sebagainya, lalu ditafsirkan.

5) Verification (Pembuktian)

Pada tahap ini peserta didik memeriksa secara cermat untuk membuktikan benar atau tidaknya hipotesis yang ditetapkan dengan temuan alternatif, dihubungkan dengan hasil data yang telah diolah. Verifikasi bertujuan agar proses belajar berjalan dengan baik dan kreatif jika guru memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk menemukan suatu konsep, teori, aturan atau pemahaman melalui contoh-contoh yang ia jumpai dalam kehidupannya.

6) Generalization (Menarik Kesimpulan / Generalisasi)

Tahap generalisasi adalah proses menarik kesimpulan yang dapat dijadikan prinsip umum dan berlaku untuk semua kejadian atau masalah yang sama, dengan memperhatikan hasil verifikasi.

Media Puzzle

Rossie dan Breidle dalam Sanjaya (2006:161) mengemukakan “media pembelajaran adalah seluruh alat dan bahan untuk mencapai tujuan pendidikan seperti radio, buku, majalah dan sebagainya”.

Newby dalam Prawiradilaga (2009:64) mengungkapkan “media pembelajaran adalah media yang dapat menyampaikan pesan pembelajaran atau mengandung muatan untuk membelajarkan seseorang”.

Gagne dan Briggs dalam Arsyad (2008:4) “media pembelajaran adalah komponen sumber belajar atau wahana fisik yang mengandung materi instruksional di lingkungan siswa yang dapat merangsang peserta didik untuk belajar”.

Dari definisi di atas dapat disimpulkan bahwa media pembelajaran adalah alat bantu yang digunakan dalam menyampaikan isi materi pembelajaran atau dapat membelajarkan seseorang yang bertujuan membangkitkan motivasi dan rangsangan kegiatan belajar peserta didik sehingga tujuan pendidikan tercapai.

Jadi, agar proses belajar mengajar dapat memperoleh hasil optimal, sebaiknya peserta didik diajak untuk memanfaatkan semua alat inderanya. Guru berupaya untuk menampilkan rangsangan (stimulus) yang dapat diproses dengan berbagai indera. Semakin banyak alat indera yang digunakan untuk menerima dan mengolah informasi semakin besar kemungkinan informasi tersebut dimengerti dan dapat dipertahankan dalam ingatan.

Rokhmat (2006:50) menyatakan, “Puzzle adalah permainan konstruksi melalui kegiatan memasang atau menjodohkan kotak-kotak, atau bangun-bangun tertentu sehingga akhirnya membentuk sebuah pola tertentu”.

Sejalan dengan pendapat Rokhmat, Rahmanelli (2007:24) menyebutkan, “Puzzle adalah permainan merangkai potongan-potongan gambar yang berantakan menjadi suatu gambar yang utuh”.

Sedangkan Adenan dalam Soedjatmiko (2008:9) menambahkan “Puzzle dan games adalah materi untuk memotivasi diri secara nyata dan merupakan daya panarik yang kuat”.

Berdasarkan pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa Puzzle adalah permainan yang terdiri dari potongan gambar-gambar, kotak-kotak, huruf-huruf, atau angka-angka yang disusun seperti dalam sebuah permainan yang akhirnya membentuk sebuah pola tertentu sehingga membuat peserta didik menjadi termotivasi untuk menyelesaikan puzzle secara tepat dan cepat.

METODE PENELITIAN

Setting penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan pada semester gasal tepatnya bulan September 2017 s.d. Desember 2017. Penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan di kelas VIII A SMP Negeri 3 Warungasem Kabupaten Batang semester gasal tahun pelajaran 2017/2018.

Subjek penelitian dalam penelitian tindakan kelas ini adalah peserta didik kelas VIII A SMP Negeri 3 Warungasem tahun pelajaran 2014/2015. Kelas VIII A berjumlah 22 peserta didik, terdiri atas 14 laki-laki dan 8 perempuan. Objek penelitian ini adalah keaktifan dan hasil belajar IPA materi gaya dan hukum Newton.

Teknik pengambilan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik tes dan nontes. Data tes dikumpulkan melalui tes tertulis setelah dilakukan pembelajaran pada akhir siklus I dan siklus II, sedangkan data nontes dikumpulkan melalui observasi perilaku/sikap peserta didik, catatan harian guru, angket peserta didik, dan dokumentasi foto.

Validasi yang digunakan adalah validasi empirik untuk membandingkan data hasil belajar dari awal pra siklus hingga akhir siklus. Sedangkan untuk data observasi digunakan metode triangulasi dengan menganalisis data dari awal proses pembelajaran, refleksi hingga akhir penyusunan laporan.

Teknik analisis data yang digunakan pada penelitian ini adalah analisis data kuantitatif dan kualitatif. Analisis kuantitatif dilakukan untuk menganalisis data yang diperoleh dari hasil tes tulis. Penilaian berdasarkan pada kriteria yang telah ditentukan. Hasil analisis kuantitatif data tes dihitung secara persentase. Analisis kualitatif dilakukan untuk menganalisis data nontes berdasarkan proses pembelajaran yang telah dilaksanakan. Data kualitatif diperoleh melalui hasil observasi perilaku/sikap peserta didik, catatan guru, angket peserta didik, dan dokumentasi foto. Hasil analisis data kualitatif digunakan untuk mengetahui perubahan perilaku peserta didik pada siklus I dan siklus II. Selain itu, data nontes digunakan untuk mengetahui tanggapan peserta didik terhadap pembelajaran IPA materi gaya dan hukum Newton dengan berdisco berbantuan puzzle.

Penelitian tindakan kelas dilakukan dalam dua siklus. Setiap siklus terdiri atas tahap perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi (pengamatan dan evaluasi), dan refleksi. Adapun indikator keberhasilan penelitian ini adalah jika 85% dari seluruh peserta didik mencapai kemampuan dan hasil belajar dengan nilai 75 (sama atau di atas nilai kriteria ketuntasan minimum/KKM).


HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASANNYA

Hasil belajar IPA dan keaktifan peserta didik kelas VIII A masih rendah. Secara klasikal ketuntasan belajar peserta didik baru 3 peserta didik (13,64%) sedangkan yang tidak tuntas 19 (86,36%). Nilai tertinggi 80, terendah 22,5 dan nilai rata-rata peserta didik juga baru mencapai nilai 56,14. Dengan hasil belajar yang demikian maka perlu diadakan tindakan untuk memperbaikinya.

Siklus I

Proses pembelajaran IPA materi gaya dan hukum Newton dengan berdisco (discovery learning) berbantuan puzzle pada siklus I dilaksanakan dalam tiga tahap sesuai dengan rencana pembelajaran. Pada tahap pendahuluan, guru mengondisikan peserta didik dengan stimulasi (menciptakan situasi) dengan cara pemusatan perhatian, melakukan apersepsi, motivasi, kemudian mengajukan pertanyaan kepada peserta didik dan menyampaikan tujuan, manfaat mempelajari materi tersebut. Berdasarkan observasi, peserta didik terlihat antusias dengan kahadiran guru. Interaksi yang baik juga terjalin antara guru dan peserta didik. Perserta didik bersedia menjawab dan mengemukakan pendapatnya mengenai tujuan dan manfaat pembelajaran. Namun, masih ada beberapa peserta didik yang duduk di bangku belakang dan pojok belakang sebelah kanan maupun kiri terlihat kurang memperhatikan dan asyik berbicara dengan temannya.

Pada tahap inti, guru mengondisikan peserta didik dengan melakukan pembahasan tugas dan identifikasi masalah dengan cara menyampaikan informasi tentang kegiatan yang akan dilakukan, membagi peserta didik menjadi 5 kelompok yang terdiri dari 4 atau 5 peserta didik tiap kelompoknya, kemudian guru membagikan LKS kepada masing-masing kelompok. Guru meminta peserta didik melakukan observasi melaksanaan percobaan dan mengerjakan LKS untuk mengukur dan membedakan besar gaya gesek pada berbagai permukaan yang berbeda kekasarannya, menunjukkan beberapa contoh adanya gaya gesek yang menguntungkan dan gaya gesek yang merugikan pada pertemuan I serta percobaan untuk mengukur massa dan berat benda, menghitung percepatan gravitasi bumi setempat, serta membandingkan / membedakan berat dan massa suatu benda pada pertemuan II. Peserta didik kemudian melakukan kegiatan pengumpulan data dengan pengamatan dan mencatat pada LKS, melakukan pengolahan data dan analisis, membuka amplop potongan puzzle dan merangkainya secara benar. Kemudian melakukan verifikasi dengan cara presentasi hasil percobaan, diskusi, maupun hasil penempelan puzzle, dan pada tahap akhir kegiatan inti dengan berdisco peserta didik melakukan generalisasi dengan membuat kesimpulan. Guru membimbing kelompok belajar dan bekarja. Berdasarkan observasi, ada beberapa peserta didik yang terlihat kurang aktif dan bergantung pada teman satu kelompoknya. Pada pertemuan I terlihat beberapa kelompok masing bingung untuk melaksanakan prosedur percobaan, akan tetapi guru segera membimbing. Ada pula beberapa kelompok yang masih ragu menuliskan hasil diskusi pada data pengamatan atau jawaban pertanyaan. Dalam membacakan hasil diskusipun beberapa kelompok terlihat masih canggung. Guru memberi motivasi kepada peserta didik supaya lebih percaya diri. Gambar 1 berikut ini memperlihatkan situasi pembelajaran pada siklus I.

Gambar 1. Proses Pembelajaran Berdisco Berbantuan Puzzle

Kegiatan inti pada pertemuan kedua adalah peserta didik melakukan percobaan untuk mengukur massa dan berat benda yang berbeda-beda, menghitung besar percepatan gravitasi setempat, membandingkan dan membedakan berat dan massa suatu benda. Percobaan berjalan lebih lancar daripada pertemuan pertama, akan tetapi beberapa peserta didik dalam kelompok masih kurang tertib untuk merapikan kembali alat dan bahan setelah selesai kegiatan percobaan. Sebagian peserta didik kurang memperdulikan kebersihan meja kerja setelah percobaan. Sebagian besar peserta didik juga mengalami kesulitan dalam menghitung percepatan gravitasi bumi yang menggunakan data angka yang berupa desimal.

Hasil catatan harian guru menunjukkan bahwa kegiatan pada tahap penutup sudah berlangsung dengan baik. Peserta didik dan guru mereview hasil kegiatan pembelajaran, melakukan refleksi dan guru memberikan penghargaan kepada kelompok kerja terbaik. Gurupun memberikan masukan terhadap kesulitan-kesulitan yang dialami peserta didik. Peserta didik dibimbing merangkum pelajaran dan diberi tugas rumah.

Berdasarkan uraian tersebut, dapat disimpulkan bahwa proses pembelajaran materi pokok gaya gesek, perbedaan massa dan berat benda dengan berdisco berbantuan puzzle pada siklus I sudah berlangsung dengan baik sesuai dengan rencana pembelajaran meskipun masih belum maksimal. Hal tersebut disebabkan masih ada beberapa peserta didik yang menunjukkan perilaku negatif selama mengikuti proses pembelajaran siklus I. Kekurangan-kekurangan yang muncul selama proses pembelajaran digunakan sebagai refleksi untuk memperbaiki pada pembelajaran siklus II.

Dari hasil tes siklus I dalam bentuk soal uraian diperoleh hasil seperti tercantum dalam tabel berikut.

Tabel 1. Hasil Tes Siklus I

Kategori

Interval

F

%

Nilai

Rata-rata

Ketuntasan

%

Sangat Baik

85 – 100

8

36,36

75,45

(kategoribaik)

59,09

Baik

75 – 84

5

22,73

Cukup

60 – 74

8

36,36

Kurang

0 – 59

1

4,55

Jumlah

22

100

Hasil tes pada siklus I mengalami peningkatan dibandingkan hasil tes prasiklus, yaitu dari rata-rata kelas berkategori kurang menjadi baik. Jika dibandingkan dengan hasil tes prasiklus, hasil tes siklus I mengalami peningkatan sebesar 19,31 atau sebesar 34,4%, yaitu dari 56,14 menjadi 75,45. Peserta didik kelas VIII A SMP Negeri 3 Warungasem yang berjumlah 22 peserta didik belum semua mencapai nilai tuntas. Jumlah yang sudah mencapai KKM sebanyak 13 peserta didik (59,09%), sedangkan 9 peserta didik (40,91%) belum tuntas.

Hasil perilaku peserta didik pada siklus I dapat dilihat pada tabel 2 lembar observasi perilaku/sikap peserta didik sebagai berikut.

No

Aspek yang diamati

Baik Sekali

Baik

Cukup

Kurang

1.

Antusias peserta didik dalam mengikuti pembelajaran

2.

Keaktifan peserta didik dalam mencari sumber belajar

3.

Keaktifan peserta didik dalam kerja sama kelompok

4.

Keaktifan siswa mengajukan pertanyaan

5.

Kelancaran peserta didik mempresentasikan hasil diskusi

6.

Kelancaran peserta didik dalam menjawab pertanyaan

7.

Kemampuan dalam menghimpun hasil diskusi

Keterangan:

Baik sekali : 5 – 6 = jika 83 % - 100 % jumlah kelompok melaksanakan

Baik : 4 = jika 67 % - 82 % jumlah kelompok melaksanakan

Cukup : 3 = jika 50 % - 66 % jumlah kelompok melaksanakan

Kurang : 0 – 2 = jika < 50 % jumlah kelompok melaksanakan

Siklus II

Proses pembelajaran IPA materi gaya dan hukum Newton dengan berdisco (discovery learning) berbantuan puzzle pada siklus II dilaksanakan dalam tiga tahap sesuai rencana pembelajaran. Pada tahap pendahuluan, guru melakukan stimulasi (menciptakan situasi) dengan melakukan pemusatan perhatian, apersepsi, motivasi, menyampaikan tujuan dan manfaat pembelajaran, kemudian mengajukan pertanyaan kepada peserta didik mengenai pembelajaran hukum Newton yang akan dilaksanakan. Berdasarkan observasi pada tahap pendahuluan, peserta didik terlihat antusias dengan kehadiran guru. Pada saat guru mengumumkan hasil tes siklus I, peserta didik juga terlihat antusias dan penasaran dengan hasil nilai mereka. Guru memberikan motivasi bagi peserta didik yang nilainya masih berkategori cukup dan kurang agar lebih bersungguh-sungguh dalam mengikuti pembelajaran. Proses tanya jawab juga berlangsung dengan baik. Guru memberikan pertanyaan umpan balik mengenai kemudahan dan kesulitan yang masih dialami peserta didik pada pembelajaran siklus I. Peserta didik menjawab pertanyaan guru dengan percaya diri. Peserta didik juga tidak canggung ketika diminta untuk mengemukakan pendapatnya mengenai tujuan dan manfaat pembelajaran.

Pada tahap inti, guru melakukan pembahasan tugas dan identifikasi masalah dengan menyampaikan informasi tentang kegiatan yang akan dilakukan, yaitu mendemonstrasikan hukum I dan II Newton secara sederhana dan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari pada pertemuan pertama siklus II dan mendemonstrasikan hukum III Newton melalui kegiatan balap roket balon pada pertemua kedua siklus II, serta kegiatan merangkai puzzle hukum I, II, dan III Newton. Selain itu guru juga membagi peserta didik menjadi 5 kelompok yang tiap kelompoknya terdiri atas 4-5 peserta didik, berdiskusi kelompok mengkaji LKS secara sungguh-sungguh dan benar-benar memahaminya. Setelah itu peserta didik melaksanakan percobaan pada tahap observasi, mengamati hasil percobaan dan mencatat hasilnya pada tahap pengumpulan data, mengolah dan menganalisis data hasil percobaan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan pada LKS, merangkai puzzle hukum I, II, dan III Newton pada tahap pengolahan data dan analisis, peserta didik mempresentasikan hasil percobaan dan diskusi secara bergantian pada tahap verifikasi, melakukan diskusi kelas secara klasikal berdasarkan data hasil percobaan dan presentasi kelompok, serta membuat kesimpulan pada tahap generalisasi. Guru lebih meningkatkan bimbingan percobaan kepada peserta didik terutama yang belum begitu paham.

Setelah peserta didik benar-benar memahami LKS percobaan, kegiatan/prosedur percobaan dilaksanakan pada masing-masing kelompok dengan lebih tertib bila dibandingkan pada siklus II. Peserta didik berdiskusi dengan anggota kelompok masing-masing secara aktif dan mampu bekerja sama dan berbagi dengan baik. Peserta didik terlihat aktif dan bersungguh-sungguh dalam diskusi. Peserta didik juga aktif bertanya pada saat mengalami kesulitan dalam diskusi, merangkai puzzle, dan memperhatikan dengan sungguh-sungguh pada saat dijelaskan oleh guru. Pada saat membacakan hasil diskusi, peserta didik juga terlihat aktif dan percaya diri. Secara singkat, proses pembelajaran dapat ditunjukkan pada gambar 2 berikut.

Gambar 2. Kegiatan Pembelajaran Siklus II

Kegiatan inti pada pertemuan kedua adalah peserta didik mengerjakan LKS dan melakukan percobaan untuk menghitung percepatan gerak benda, mendemonstrasikan hukum III Newton dengan kegiatan balap roket balon, merangkai puzzle peristiwa penerapan hukum I, II, dan III Newton. Bardasarkan catatan harian guru, kegiatan tersebut berlangsung dengan baik karena peserta didik sudah berdisiplin mengerjakan tugas dari guru. Sebagaimana tahap sebelumnya, berdasarkan catatan harian guru, tahap penutup juga berlangsung dengan baik.

Berdasarkan uraian tersebut, dapat disimpulkan bahwa proses pembelajaran IPA pokok bahasan gaya dan hukum Newton melalui model berdisco (discovery learning) berbantuan puzzle pada siklus II sudah berlangsung dengan baik dan lancar sesuai dengan rencana pembelajaran. Perilaku peserta didik selama melaksanakan pembelajaran juga mengalami perubahan ke arah yang lebih positif dibandingkan siklus I. Peserta didik lebih serius, berdisiplin dan bersungguh-sungguh dalam melaksanakan pembelajaran. Peserta didik juga lebih bersemangat, antusias, dan percaya diri. Kemampuan bekerja sama dan berbagi peserta didik dalam kegiatan percobaan, merangkai puzzle, dan diskusi kelompok juga berubah menjadi lebih baik.

Hasil tes siklus II menunjukkan adanya peningkatan dari siklus I. Hasil tes siklus II dijelaskan pada tabel 3 berikut ini.

Tabel 3. Hasil Tes Siklus II

Kategori

Interval

F

%

Nilai

Rata-rata

Ketuntasan

%

Sangat Baik

85 – 100

12

54,55

83,86

(kategori baik)

86,36 %

Baik

75 – 84

7

31,82

Cukup

60 – 74

2

9,09

Kurang

0 – 59

1

4,54

Jumlah

22

100

Nilai rata-rata pada siklus II mengalami peningkatan dibandingkan siklus I sebesar 8,41 atau 11,15%, yaitu dari nilai rata-rata sebesar 75,45 menjadi 83,86. Hasil tes siklus II sudah memenuhi target ketuntasan penelitian, yaitu mencapai 86,36 %.

Sebagaimana siklus I, perubahan perilaku peserta didik pada siklus II dapat dilihat pada tabel 4 lembar observasi perilaku/sikap peserta didik sebagai berikut.

No

Aspek yang diamati

Baik Sekali

Baik

Cukup

Kurang

1.

Antusias peserta didik dalam mengikuti pembelajaran

2.

Keaktifan peserta didik dalam mencari sumber belajar

3.

Keaktifan peserta didik dalam kerja sama kelompok

4.

Keaktifan siswa mengajukan pertanyaan

5.

Kelancaran peserta didik mempresentasikan hasil diskusi

6.

Kelancaran peserta didik dalam menjawab pertanyaan

7.

Kemampuan dalam menghimpun hasil diskusi

Keterangan:

Baik sekali : 5 – 6 = jika 83 % - 100 % jumlah kelompok melaksanakan

Baik : 4 = jika 67 % - 82 % jumlah kelompok melaksanakan

Cukup : 3 = jika 50 % - 66 % jumlah kelompok melaksanakan

Kurang : 0 – 2 = jika < 50 % jumlah kelompok melaksanakan

Pembahasan

Proses pembelajaran IPA pokok bahasan gaya dan hukum Newton dengan berdisco berbantuan puzzle dilakukan dalam dua tahap, yaitu siklus I dan siklus II. Masing-masing siklus terdiri atas dua pertemuan. Setiap pertemuan terdiri atas tiga tahap, yaitu pendahuluan, inti, dan penutup. Pada tahap pendahuluan dilakukan dengan memberikan stimulasi atau menciptakan situasi dengan pemusatan perhatian, apersepsi, motivasi, penyampaian tujuan dan manfaat pembelajaran. Pada tahap inti terdiri dari pembahasan tugas dan identifikasi masalah, observasi, pengumpulan data, pengolahan dan analisis, verifikasi, dan generalisasi. Meskipun demikian, proses pembelajaran yang berlangsung pada siklus I tidak sama persis dengan proses pembelajaran pada siklus II. Perbedaan tersebut disebabkan adanya refleksi atas pembelajaran siklus I untuk proses perbaikan pada siklus II sehingga diperoleh hasil yang lebih maksimal. Peningkatan proses pembelajaran tersebut dipaparkan sebagai berikut.

Pada tahap pendahuluan siklus I, guru mengondisikan peserta didik dengan stimulasi (menciptakan situasi) dengan cara pemusatan perhatian, melakukan apersepsi, motivasi dengan menunjukkan mobil mainan (bentuk mobil yang aerodinamis) pada pertemuan I dan menunjukkan dua buah tulisan “Berat badan Budi 40 kilogram” dan “Berat badan Budi 40 Newton” pada pertemuan II kemudian mengajukan pertanyaan kepada peserta didik dan menyampaikan tujuan, manfaat mempelajari materi tersebut. Peserta didik bersedia menjawab namun, masih ada beberapa peserta didik yang terlihat kurang memperhatikan dan asyik berbicara dengan teman satu kelompok.

Sementara itu, kegiatan pendahuluan pada siklus II memperlihatkan peserta didik sudah tidak canggung lagi sehingga lebih mudah mengondisikan dan melakukan apersepsi. Pada saat guru mengumumkan hasil tes siklus I, peserta didik juga terlihat antusias. Guru memberikan motivasi bagi peserta didik yang nilainya masih berkategori cukup dan kurang agar lebih bersungguh-sungguh dalam melaksanakan pembelajaran.

Pada tahap inti siklus I, guru mengondisikan peserta didik dengan melakukan pembahasan tugas dan identifikasi masalah dengan cara menyampaikan informasi tentang kegiatan yang akan dilakukan, membagi peserta didik menjadi 5 kelompok yang terdiri dari 4 atau 5 peserta didik tiap kelompoknya, kemudian guru membagikan LKS kepada masing-masing kelompok. Guru meminta peserta didik melakukan observasi melaksanaan percobaan dan mengerjakan LKS untuk mengukur dan membedakan besar gaya gesek pada berbagai permukaan yang berbeda kekasarannya, menunjukkan beberapa contoh adanya gaya gesek yang menguntungkan dan gaya gesek yang merugikan pada pertemuan I serta percobaan untuk mengukur massa dan berat benda, menghitung percepatan gravitasi bumi setempat, serta membandingkan / membedakan berat dan massa suatu benda pada pertemuan II. Peserta didik kemudian melakukan kegiatan pengumpulan data dengan pengamatan dan mencatat pada LKS, melakukan pengolahan data dan analisis, membuka amplop potongan puzzle dan merangkainya secara benar. Kemudian melakukan verifikasi dengan cara presentasi hasil percobaan, diskusi, maupun hasil penempelan puzzle, dan pada tahap akhir kegiatan inti dengan berdisco peserta didik melakukan generalisasi dengan membuat kesimpulan. Guru membimbing kelompok belajar dan bekarja. Berdasarkan observasi, ada beberapa peserta didik yang terlihat kurang aktif dan bergantung pada teman satu kelompoknya. Namun guru segera mendekati dan memberi pengarahan sehingga kegiatan percobaan dan diskusi dapat berlangsung dengan baik. Pada pertemuan I terlihat beberapa kelompok masing bingung untuk melaksanakan prosedur percobaan, akan tetapi guru segera membimbing sehingga pada pertemuan berikutnya peserta didik sudah dapat melaksanakan percobaan berdasarkan LKS yang telah dibagikan. Ada pula beberapa kelompok yang masih ragu menuliskan hasil diskusi pada data pengamatan atau jawaban pertanyaan. Dalam membacakan hasil diskusipun beberapa kelompok terlihat masih canggung.

Sementara kegiatan inti pada siklus II, guru memberi pemecahan kesulitan yang dirasakan peserta didik dalam melaksanakan percobaan maupun menulis hasil pengamatan dan diskusi, antara lain dengan meminta peserta didik lebih memahami LKS lagi baru melaksanakan percobaan, peserta didik dapat memanfaatkan buku paket atau referensi lainnya untuk membantu menjawab beberapa pertanyaan dalam diskusi. Seluruh peserta didik diminta lebih aktif dan terlibat dalam kegiatan penyusunan puzzle dan benar-benar memahami konsepnya, lebih dimotivasi untuk tenang dan santai saat menbacakan hasil diskusi kelompoknya di depan kelas serta peserta didik yang lain memperhatikan dan menyimak apa yang dipresentasikan. Guru juga memberi pendalaman materi pokok bahasan gaya dan hukum Newton karena masih ada peserta didik yang belum memahami sepenuhnya pada siklus I. Selama dijelaskan peserta didik memperhatikan dengan sungguh-sungguh dan aktif bertanya.

Proses pembelajaran ditutup dengan kegiatan penutup. Pada setiap pertemuan, baik siklus I maupun siklus II, peserta didik dan guru melakukan refleksi dan mengumpulkan hasil pembelajaran. Selain itu guru membimbing peserta didik untuk merangkum pelajaran serta memberi tugas rumah.

Hasil belajar IPA materi gaya dan hukum Newton dengan model berdisco (discovery learning) berbantuan puzzle berupa nilai rata-rata pada pra siklus, siklus I, dan siklus II direkap untuk mengetahui peningkatan hasil belajar setelah melaksanakan pembelajaran dengan berdisco berbantuan puzzle. Peningkatan hasil belajar dapat dilihat pada tabel 5 berikut ini.

Tabel 5. Rekapitulasi Nilai Rata-rata Hasil Tes Pra Siklus, Siklus I dan Siklus II

No

Jenis Tagihan UH

Rata-rata

Nilai Tertinggi

Nilai Terendah

% Tuntas

1.

Pra Siklus

56,14

80

22,5

13,64

2.

Siklus I

75,45

92,5

45

59,09

3.

Siklus II

83,86

100

57,5

86,36

Apabila digambarkan dengan grafik perkembangan nilai rata-rata, nilai tertinggi, nilai terendah, jumlah peserta didik yang tuntas belajar, dan persentase ketuntasan belajar pada prasiklus, silkus I, dan siklus II adalah sebagai berikut.

Grafik 1. Perkembangan Nilai Rata-Rata, Nilai Tertinggi, Nilai Terendah, Jumlah Peserta Didik yang Tuntas, dan Persentase Ketuntasan Setiap Siklus

Berdasarkan hasil di atas, tampak bahwa melalui model berdisco berbantuan puzzle dapat memperbaiki hasil belajar pra siklus, siklus I dan II baik dari nilai rata-rata kelas maupun ketuntasan belajar kelas VIII A SMP Negeri 3 Warungasem.

Peningkatan hasil belajar dengan berdisco berbantuan puzzle disertai pula perubahan perilaku peserta didik dari siklus I ke siklus II. Hasil observasi perilaku/sikap peserta didik pada siklus I menunjukkan bahwa masih ada sebagian peserta didik yang menunjukkan perilaku negatif. Perilaku negatif tersebut yaitu kurang aktif dalam kegiatan tanya jawab atau mengemukakan pendapat, kurang aktif dalam mencari sumber belajar, kurang percaya diri saat berpresentasi, dan kurang mampu dalam menghimpun hasil diskusi.

Namun, pada siklus II peserta didik mengalami perubahan yang signifikan. Peserta didik tidak canggung untuk bertanya dan mengemukakan pendapat, aktif mencari sumber belajar, lebih percaya diri saat berpresentasi, serta mampu dalam menghimpun hasil diskusi.

Selain itu, peserta didik memberikan tanggapan yang sangat positif terhadap pembelajaran IPA dengan berdisco berbantuan puzzle. Dari tujuh aspek tanggapan peserta didik terhadap pembelajaran IPA pokok bahasan gaya dan hukum Newton mengalami peningkatan rata-rata persentase tanggapan dari 84,90% pada siklus I menjadi 91,23% pada siklus II.

PENUTUP

Simpulan

Simpulan berdasarkan hasil penelitian berdisco (discovery learning) dengan berbantuan puzzle untuk meningkatkan keaktifan dan hasil belajar IPA materi gaya dan hukum Newton pada peserta didik kelas VIII A SMP Negeri 3 Warungasem Tahun Pelajaran 2017/2018 adalah sebagai berikut. (1) proses pembelajaran IPA materi gaya dan hukum Newton dengan berdisco berbantuan puzzle pada siklus I dan siklus II berlangsung dalam alur atau tahapan yang sama. Namun, peneliti melakukan perbaikan proses pembelajaran pada siklus II berdasarkan refleksi siklus I; (2) hasil belajar IPA materi gaya dan hukum Newton dengan berdisco berbantuan puzzle peserta didik kelas VIII A SMP Negeri 3 Warungasem mengalami peningkatan. Nilai rata-rata yang dicapai oleh peserta didik sebelum diberi tindakan adalah sebesar 56,14 dalam kategori kurang. Pada siklus I, nilai rata-rata peserta didik mengalami peningkatan sebesar 19,31 atau sebesar 34,4 % menjadi sebesar 75,45 dan berada dalam kategori baik. Persentase ketuntasan klasikal pada siklus I belum mencapai batas ketuntasan yang telah ditetapkan oleh peneliti sehingga dilakukan siklus II. Setelah dilaksanakan tindakan siklus II persentase ketuntasan klasikal meningkat dari 59,09 % menjadi 86,36 %. Nilai rata-rata peserta didik mengalami peningkatan sebesar 8,41 atau 11,15 %, yaitu dari nilai rata-rata 75,45 pada siklus I menjadi sebesar 83,86 pada siklus II; (3) perilaku peserta didik kelas VIII A SMP Negeri 3 Warungasem setelah melaksanakan pembelajaran IPA materi gaya dan hukum Newton dengan model berdisco berbantuan puzzle mengalami perubahan ke arah positif.

Saran

Ada dua saran dari penelitian tindakan kelas ini (1) guru mata pelajaran IPA hendaknya menggunakan model berdisco berbantuan puzzle. Model pembelajaran ini terbukti dapat meningkatkan hasil belajar peserta didik. Selain itu, model pembelajaran ini dapat meningkatkan perilaku positif peserta didik; (2) model berdisco (discovery learning) berbantuan puzzle dapat digunakan sebagai model pembelajaran IPA karena memiliki keunggulan hasilnya akan lebih cepat selesai dan lebih teratur dan terarah, sehingga tidak mudah bingung.

DAFTAR PUSTAKA

Anni CT, A Rifa’i RC, E Purwanto dan D Purnomo. 2005. Psikologi Belajar. Semarang: UPT MKK UNNES

Hamalik, Omar. 2008. Pendekatan Baru Strategi Belajar Mengajar Berdasarkan CBSA. Bandung: Sinar Baru Algensido

Harminingsih. 2008. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Hasil Belajar. On line at http:www.harminingsihblogspot.com/2008/08/faktor-faktor-yang-mempengaruhi-hasil.html (accessed at 5 Januari 2015)

Hernawan, Asep Herry, dkk. 2010. Pengembangan Kurikulum dan Pembelajaran. Jakarta: Universitas Terbuka

Kemendikbud. 2013. Materi Pelatihan Guru Implementasi Kurikulum 2013. Jakarta: BPSDMPK dan PMP Kemendikbud

Parmin dan Sudarmin. 2013. Strategi Belajar Mengajar IPA. Semarang: UNNES

Soemanto, Wasty. 2006. Psikologi Pendidikan. Jakarta: Rineka Cipta

Subyantoro. 2012. Pedagogik Jurnal Pendidikan Dasar dan Menengah. Semarang: Lab Baca Tulis UNNES

Suparno Paul. 2007. Metodologi Pembelajaran Fisika. Yogyakarta: Universitas Sanata Dharma

Winataputra, Udin. 2008. Teori Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Universitas Terbuka



DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Komentar

Terimakasih karyanya pak...sy juga telah selesai membuat ptk dg discovery learning....hanya sj dengan two stay three stray.... Karyanya bagus, runtut

07 Aug
Balas

Mantab pak

14 Aug
Balas

Bergabung bersama komunitas Guru Menulis terbesar di Indonesia!

Menulis artikel, berkomentar, follow user hingga menerbitkan buku

Mendaftar Masuk     Lain Kali